Batu Bara, Sampai Kapan Akan bergantung Padanya

Batu Bara, Sampai Kapan Akan bergantung Padanya

Batubara juga sebagai bahan bakar sudah dipakai mulai sejak beratus-ratus tahun waktu lalu. Awal mulanya, batubara merubah histori dunia moderen dengan mendorong Revolusi Industri di Inggris, mulai sejak itu batubara tidak berhenti merubah muka dunia dengan beragam jejak rusaknya yang ditinggalkannya.

Selama siklus pemanfaatannya batubara menyebabkan rusaknya yang tidak bisa diperbaiki pada bumi serta manusia di dalamnya. Siklus hidup batubara dari mulai bawah tanah sampai ke limbah beracun yang dihasilkannya, umumnya dikatakan sebagai rantai kepemilikan. Rantai kepemilikan ini mempunyai tiga rantai utama—penambangan, pembakaran, hingga ke pembuangan limbahnya. Tiap-tiap sisi dari rantai ini, menyebabkan daya rusak yang perlu dijamin bumi serta manusia didalamnya.

Penambangan batubara

Penambangan batubara menyebabkan meluasnya penggundulan rimba, erosi tanah, kehilangan sumber air, polusi hawa, serta rusaknya keutuhan sosial orang-orang yang tinggal di dekat tempat pertambangan. Penambangan batubara besar-besaran mengikis habis tanah, turunkan tingkat permukaan air, serta membuahkan jutaan ton limbah beracun, dan menggusur orang-orang kebiasaan dari tempat hidupnya dari generasi ke generasi selama beberapa puluh th. bahkan juga beberapa ratus th..

Rusaknya lingkungan yang berlangsung di Pulau Kalimantan, sekarang ini, yaitu kenyataan hidup serta bukti empiris tidak terbantahkan dari demikian dasyatnya rusaknya yang disebabkan oleh pertambangan batubara.

Pembakaran batubara serta ancaman paling besar pada iklim kita

Pembakaran batubara meninggalkan jejak rusaknya yang tidak kalah dasyat. Air dalam jumlah yang besar dalam pengoperasian PLTU menyebabkan kelangkaan air di banyak tempat. Polutan beracun yang keluar dari cerobong asap PLTU meneror kesehatan orang-orang serta sekitar lingkungan. Partikel halus debu batubara yaitu pemicu paling utama penyakit pernapasan akut, merkuri perusak perubahan saraf anak-anak balita serta janin dalam kandungan ibu hamil yang tinggal di seputar PLTU. Serta yang tidak kalah utama, pembakaran batubara di PLTU yaitu sumber paling utama gas rumah kaca pemicu pergantian iklim seperti karbon dioksida, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, serta metana yang jadi memperburuk keadaan iklim kita.

Pertambangan batubara yang ditinggalkan serta limbah pembakaran batubara

Jejak rusaknya yang ditinggalkan oleh batubara tak berhenti di waktu pembakarannya. Di ujung rantai kepemilikannya, ada pertambangan batubara yang ditinggalkan sesudah dieksploitasi habis, limbah pembakaran batubara, serta hamparan alam yang rusak tanpa ada pernah bakal dapat kembali seperti yang lalu.

Pertambangan yang ditinggalkan pasca dieksploitasi habis, meninggalkan segudang permasalahan untuk lingkungan serta orang-orang sekitarnya. Lubang-lubang raksasa, drainase tambang asam, serta erosi tanah cuma beberapa dari permasalahan. Hamparan alam yang rusak yaitu adalah keadaan permanen yang tidak bakal pernah sembuh, sekeras apa pun usaha yang dikerjakan untuk mengembalikannya.

Limbah pembakaran batubara sangatlah beracun, serta membahayakan kesehatan orang-orang, tembaga, cadmium serta arsenic yaitu beberapa dari zat toksik yang dihasilkan dari limbah itu, yang semasing menyebabkan keracunan, tidak berhasil ginjal, serta kanker.

Tiap-tiap rantai dalam siklus pemakaian batubara meyumbangkan rusaknya yang disebabkan oleh daya kotor ini—masing-masing dengan langkahnya sendiri. Rusaknya ini riil serta mematikan. Jadi pertanyaannya sampai kapan kita mau bergantung pada sumber daya yang sudah dipastikan akan habis nantinya?

Share